Welcome to My lovely Blog

Random

create your own banner at mybannermaker.com!
Copy this code to your website to display this banner!
http://adf.ly/EWRNQ

Hadiths/aLQur'an

Hadiths/aLQur'an
Dhul Hijja

Makna “al-Qurba”


Makna “al-Qurba” pada ayat 23 surah Syura  

Apabila maksud pembicara dari sebuah redaksi atau kata-kata yang digunakan di dalamnya tidak jelas, pada setiap proposisi dan kalimat, maka ia harus ditelusuri pada indikasi-indikasi (qarâin) yang dapat menjelaskan maksud dari ucapannya itu. Terkait dengan ayat 23 surah al-Syura “Qul laa as’alukum ‘alaih ajran illa mawaddata fil qurbah” padanya terdapat indikasi-indikasi dan tanda-tanda yang membimbing dan membantu kita untuk memperoleh maksud yang sebenarnya dari firman Allah tentang al-Qurba.
1.       Sesuai penjelasan pakar bahasa, redaksi al-Qur’ba bermakna kekerabatan dan kedekatan pada nasab (garis keturunan). Sebagaimana hal ini disebutkan dalam al-Qur’an yang selaras dengan makna ini. Namun selain yang ayat yang menjadi obyek pertanyaan, pada ayat-ayat lainnya, pelbagai redaksi “dzi” atau “dzawi” atau “uli” digunakan padanyaidhâfa (tambahan dan hubungan). Dengan idhâfa (tambahan) ini maka kandungan dzawil qurba itu akan bermakna kekerabatan. Dengan demikian, pada ayat yang menjadi obyek pembahasan para periset memandang redaksi “ahl” atau “dzawi” dan lainya sebagai implisit (muqaddar, tidak tercetuskan dalam ucapan atau tulisan).
Dengan demikian, kita tidak dapat menerima penafsiran bahwa “al-Qurba” itu bermakna kedekatan kepada Allah atau makna yang lainnya.
2.       Indikasi-indikasi menjadi bukti atas hal ini bahwa maksud kerabat pada ayat dzawil qurba adalah kerabat nabi dan ayat tidak bermakna bahwa wajib bagi setiap kaum Muslimin untuk mencintai keluarganya sebagai ganjaran risalah.
3.       Penyebutan kata kerja “laa as’alukum” merupakan petunjuk bahwa maksud dari “dzawil qurba” di sini adalah kerabat orang yang bertanya. Dan hal ini adalah penentuan pemilik kekerabatan melalui jalan penentuan mansub ilahi (yang disandarkan kepadanya) sebagaimana ayat-ayat 113 surah al-Taubah dan ayat 7 surah al-Hasyr dapat dijadikan contoh dalam hal ini.
4.       Dengan sedikit menelisik pada ayat-ayat yang terkait dengan upah risalah maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa maksud dari “al-qurba” adalah Ahlulbait Nabi Saw; karena al-Qur’an dari satu sisi menegaskan adanya tuntutan upah dari Nabi Saw dan menafikan adanya tuntutan dari nabi-nabi lain. Dari sisi kedua, al-Qur’an terkait dengan Nabi Saw menyatakan: Aku tidak meminta upah dari kalian kecuali kecintaan (kalian) kepada keluargaku. Dari sisi ketiga, terkabulkanya doa Nabi Saw dan tuntutan upah risalah. Dari sisi keempat, Allah Swt memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada masyarakat: Upah yang aku minta dari kalian adalah untuk kalian dan upah dan ganjaranku pada Tuhan. Dan dengan melampirkan ayat-ayat ini, kita sampai pada kesimpulan sedemikian bahwa: Dzawil Qurba merupakan jalan Ilahi dan mengayunkan langkah di jalan Ilahi ini adalah untuk kepentingan manusia (itu sendiri) dan mengikuti dzawil qurba merupakan contoh nyata penerimaan seruan Ilahi. Dan pada akhirnya, dari riwayat-riwayat standar dapat kita simpulkan bahwa: Hanya Ahlulbait Nabi Saw yang menikmati keutamaan seperti ini.
5.       Terdapat banyak riwayat dari Nabi Saw terkait dengan penafsiran ayat ini dimana yang dimaksud dengan al-qurba di sini adalah Ahlulbait Nabi Saw.
Apabila maksud pembicara dari sebuah redaksi atau kata-kata yang digunakan di dalamnya tidak jelas, pada setiap proposisi dan kalimat, maka ia harus ditelusuri pada indikasi-indikasi (qarâin) yang dapat menjelaskan maksud dari ucapannya itu. Terkait dengan ayat 23 surah al-Syura “Qul laa as’alukum ‘alaih ajran illa mawaddata fil qurbah[1] padanya terdapat indikasi-indikasi[2] dan tanda-tanda yang membimbing dan membantu kita untuk memperoleh maksud yang sebenarnya dari firman Allah tentang al-Qurba.
1.       Redaksi “al-Qurba” sesuai dengan penjelasan pakar bahasa bermakna kedekatan dan kekerabatan pada nasab (garis keturunan).[3] Dalam al-Qur’an digunakan untuk orang-orang yang memiliki kedekatan dan kekerabatan, intinya adalah kekerabatan dan kekeluargaan. Karena itu terkadang redaksi “dzi” yang ditambahkan kepadanya,[4] terkadang “dzawi[5] dan terkadang dengan lafaz “uli”.[6] Dan hanya sekali datang tanpa tambahan (hubungan). Dan yang satu ini merupakan obyek pertanyaan dalam kesempatan ini  “…illla mawaddah fil qurba…” Dengan demikian lafaz seperti “ahl” [7] atau “dzi” atau “dzawi” dan sebagainya sebelum redaksi “al-Qurba” disebutkan secara implisit (muqaddar). Dan makna “al-mawaddah fil qurba”, kecintaan (mawaddah) kepada kerabat dan keluarga Nabi Saw yaitu Ahlulbait Nabi Saw.
Artinya, penafsiran sebagian mufassir yang memaknai “qurba” pada ayat di atas adalah kedekatan kepada Allah Swt,[8]  tidak benar adanya.[9] Karena berasaskan  penafsiran ini, redaksi qurba akan bermakna yang mendekatkan bukan kedekatan dan hal ini berseberangan dengan sesuatu yang disampaikan oleh pakar bahasa.
Di samping itu, makna sedemikian akan menyebabkan kekaburan pada ayat. Sebagai kesimpulannya, kaum musyrikin tidak dapat menjadi obyek bicara  ayat. Karena mereka tidak mengingkari kedekatan kepada Allah, melainkan menyembah berhala-berhala dan tuhan-tuhan mereka pandang sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan.[10]
Boleh jadi  dikatakan bahwa “al-qurba” merupakan mashdar (derivat) dan mashdar ini bermakna kedekatan dan kekerabatan bukan bermakna kerabat. Dan “fii” juga bermakna kausatif (sababiyat). Sesuai dengan pandangan ini, terdapat tiga kemungkinan dalam kandungan ayat tersebut:
A.      Obyek bicara ayat adalah Quraish yang diminta dari mereka: Apabila kalian tidak beriman kepada Nabi Saw, setidaknya kalian mecintainya dan tidak mengganggunya karena kekerabatan dan kedekatan kepadanya.
B.      Obyek bicara ayat adalah kaum Anshar dan diminta untuk mecintai mereka karena kekeluargaan dan kekerabatan Nabi Saw dengan mereka.[11]
C.      Obyek bicara ayat adalah kaum Quraish dan maksud “al-mawaddah fil qurba” adalah kecintaan Nabi Saw bukan kecintaan Quraish. Artinya wahai Quraish aku tidak menghendaki upah dari kalian. Namun kecintaanku kepada kepada kalian karena kekerabatan kalian kepadaku. Dan hal ini tidak memberikan izin kepadaku untuk bersikap acuh tak acuh kepada kalian dan kekeluargaanku kepada kalian menuntutku untuk menghidayai kalian bukan mengambil upah dari kalian.
Ketiga kemungkinan ini kendati sepintas kelihatan masuk akal dan elok dipandang mata, namun dengan sedikit lebih teliti maka akan menjadi jelas bahwa tidak satu pun dari tiga kemungkinan ini benar adanya. Karena apabila yang dimaksud adalah kafir Quraish, mereka tidak mengambil apa pun dari Nabi Saw sehingga harus menyerahkan upah. Dan apabila yang dimaksud adalah orang-orang Quraish yang beriman kepada Nabi Saw, dalam hal ini kemarahan tidak dapat digambarkan sehingga dituntut dari mereka untuk melenyapkan kemarahan mereka sebagai upah risalah, karena itu kemungkinan pertama akan tertolak.
Demikian juga, persahabat kaum Anshar dengan Nabi Saw sedemikian jelas sehingga tidak ada pun orang yang tidak tahu tentangnya. Karena itu, tidak ada maknanya bahwa Nabi Saw meminta mereka untuk mecintainya karena kekerabatan jauh yang ada di antara mereka. Terlebih orang Arab tidak terlalu memandang penting kekerabatan dari pihak ibu.[12] Dan Islamlah yang memberikan perhatian penting terhadap masalah ini. Karena itu, kemungkinan kedua tidak memiliki landasan rasional yang dapat diterima. Adapun dalam mengkritisi kemungkinan ketiga dapat dikatakan bahwa: Apakah kemungkinan ini tidak berseberangan dengan kedudukan Nabi Saw? Bukankah al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa tugasmu (Muhammad) hanyalah mengajak. Adapun memberikan petunjuk dan menghidayai itu adalah tugas Allah Swt dan Nabi Saw tidak boleh bersedih hati karena perlakuan orang-orang kafir. Bagaimana dapat dipercaya bahwa Nabi Saw karena kekerabatan, beliau memberikan petunjuk kepada sebagian orang dan lantaran kemarahan dan ketidaksukaan kepada sebagian lainnya, menghindar tidak memberikan petunjuk kepada mereka.[13]
2.       Kini yang dimaksud dengan “al-Qurba” telah jelas maka pertanyaan yang mengemuka sekarang adalah siapa yang dimaksud dengan orang-orang dekat dan para pemilik kekerabatan dan kedekatan pada garis keturunan? Jawabannya adalah Ahlulbait Nabi Saw yang merupakan maksud utama ayat ini. Hal itu dikarenakan:
Pertama,  teridentifikasinya mansub ilaihi (yang disandarkan padanya), merupakan sebuah indikasi untuk menentukan pemilik kedekatan. Terkadang, mansub ilaihi disebutkan pada ucapan dan hal ini sendiri dapat menjadi sebuah tanda bahwa siapa yang dimaksud dengan keluarga dan kerabat. Misalnya dalam al-Qur’an disebutkan “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (mereka), sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka Jahanam.” (Qs. Al-Taubah [9]:113) Penyebutan “nabi” dan “orang-orang yang beriman” adalah bukti atas poin ini bahwa yang dimaksud dengan “uli qurba” adalah orang-orang dekat setiap orang. Atau pada sebuah ayat “Setiap harta rampasan (fay’) yang diberikan Allah kepada rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota itu adalah untuk Allah, rasul, kerabat rasul” (Qs. Al-Hasyr [59]:7) Redaksi “kepada rasul” merupakan indikasi bahwa yang dimaksud dengan “lidzil Qurba” adalah kerabat dan orang-orang dekat Rasulullah Saw. Pada ayat “Katakanlah (Wahai Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku” juga terdepannya kata kerja “aku tidak meminta” merupakan sebuah tanda bahwa yang dimaksud “al-Qurba” adalah orang-orang dekat yang meminta (al-sail).[14]
Karena itu pada ayat mawaddah sendiri merupakan indikasi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud “al-qurba” itu adalah Ahlulbait dan orang-orang dekat Rasulullah Saw. Dengan demikian ada kemungkinan bahwa ayat ini menandaskan kecintaan kepada orang-orang dekat (Rasulullah) dipandang sebagai upah risalah. Dan ayat tersebut meminta kepada kaum Muslimin untuk mencintai keluarga Rasulullah Saw.[15]
Kedua, ayat-ayat yang berkenaan dengan upah risalah dalam al-Qur’an termasuk beberapa permasalahan di bawah ini:
A.      Menafikan tuntutan upah dan ganjaran dari para nabi[16] demikian juga Rasulullah Saw.[17]
B.      Terkait dengan pribadi Rasulullah Saw disebutkan bahwa: Aku tidak menginginkan upah dari kalian kecuali kecintaan kepada keluargaku.
C.      Juga dijelaskan bahwa: Upahku adalah bagi orang-orang yang menerima seruanku dengan pilihan mereka.[18]
D.      Pada ayat lainnya disebutkan: “Katakanlah, “Upah apa pun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Saba [34]:47)
Dengan menyandingkan ayat-ayat ini dapat disimpulkan bahwa Rasulullah Saw juga seperti para nabi yang lainnya, tidak menginginkan upah untuk dirinya sendiri, melainkan kecintaan kepada Ahlulbaitnya merupakan jalan menuju ke haribaan Tuhan. Dan sejatinya kecintaan ini adalah untuk manusia itu sendiri. Karena kecintaan ini merupakan gerbang untuk memasuki masalah imamah, khilafah, pengganti Rasulullah Saw dan pemberian petunjuk bagi manusia. Kecintaan ini merupakan perkara berpulang pada masalah pemenuhan dan ajakan.[19]
Dari satu sisi, “ajr” merupakan satu redaksi yang diperuntukkan baik untuk “ajr duniawi” dan juga “ajr ukhrawi”. Dan apa yang telah dinafikan pada ayat-ayat ini adalah “ajr duniawi.” Karena pada ayat-ayat ini disebutkan bahwa aku tidak meminta upah dari kalian, secara lahir menandaskan pada upah dan ganjaran duniawi. Dan kehidupan Nabi Saw menjadi bukti dan saksi atas makna ini[20] bahwa Nabi Saw tidak mengejar upah dan ganjaran duniawi.
Dari sisi lain, upah dan ganjaran hakiki, mengejewantah ketika memberikan manfaat bagi yang menerimanya, sementara mawaddah (cinta berlebih, isyq) dan mahabba (cinta) terhadap dzawilqurba adalah untuk kepentingan pecinta bukan untuk kepentingan Nabi Saw. Karena kecintaan terhadap dzawilqurba akan menyebabkan kecintaan, pada kehidupannya mengikuti dzawilqurba, dan menjadikanyna sebagai teladan dan menjauhkan dirinya dari perangkap setan.[21]
Karena itu, Nabi Saw tidak menghendaki upah dan ganjaran duniawi. Dan apabila beliau menghendaki kecintaan masyarakat kepada dzawilqurba hal ini bukan merupakan upah dan ganjaran hakiki karena al-Qur’an menegaskan bahwa keuntungan dari kecintaan ini adalah untuk manusia.
Sekarang kita harus mengajukan pertanyaan bahwa kecintaan kepada siapa dan mengikuti siapa yang memberikan keuntungan kepada masyarakat? Dan kecintaan kepada siapa yang merupakan contoh-contoh terkabulkannya doa Nabi Saw?
Apakah mawaddah dan mahabbah kepada orang-orang yang ternodai dengan kebodohan dan kesesatan dapat menjadi faktor penyelamat orang lain? Dan apakah apabila orang buta yang menuntun orang buta dapat menyampaikan manusia kepada akhir tujuannya?
Petunjuk Ilahi untuk seluruh manusia merupakan upah risalah. Tentu saja petunjuk Ilahi ini adalah untuk kepentingan dan keuntungan manusia. Dan perkara ini juga berada pada pancaran petunjuk (hidayah) dapat terealisir adalah jiwa dan diri Rasulullah Saw,[22] pelita hidayah,[23] bahtera keselamatan,[24] gerbang ilmu,[25] jalan kebenaran dan sebagainya. Dan apakah orang-orang sedemikian bukan lain Ahlulbait Rasulullah Saw.
Ketiga, terdapat banyak riwayat yang dinukil oleh kedua mazhab dalam masalah ini secara jelas dan tegas menjelaskan maksud “al-qurba,” sebagaimana dibawah ini:
1.        Hakim Huskani dalam menjelaskan ayat ini menukil sebuah riwayat yang menjelaskan siapa saja yang dimaksud dengan “dzawil qurba[26] Misalnya Ibnu Abbas berkata, “Tatkala ayat “Katakanlah (Muhammad) Aku tidak meminta upah atas apa yang kuserukan kecuali kecintaan kepada al-qurba,” diwahyukan, para sahabat Rasulullah Saw bertanya: Siapakah orang-orang yang dititahkan Tuhan untuk kami cintai? Rasulullah Saw bersabda: “Ali, Fatimah, kedua putra dari mereka.”[27]
2.        Suyuthi dalam menafsirkan ayat ini menukil sebuah riwayat dari Nabi Saw yang menjelaskan: Maksud ayat ini adalah (hendaknya) kalian menjaga hakku dan Ahlulbaitku.”[28]
3.        Ahmad bin Hanbal dalam Fadhail al-Shahaba dan Qurthubi dalam menafsirkan ayat (mawaddah) menukil riwayat dari Nabi Saw dimana yang dimaksud (al-Qurba) adalah Ali, Fatimah, dan kedua putranya.”[29]
4.        Zamakhsyari[30] dan Fakhrurazi[31] dengan bersandar pada sebuah riwayat yang dinukil dari Nabi Saw bahwa ayat “dzawil qurba” dikhususkan kepada Ali, Fatimah dan kedua putranya.”
Namun banyak kritikan dan isykalan yang diajukan terkait dengan penafsiran “al-mawaddah fi al-qurba”  bahwa itu bermakna kecintaan terhadap Ahlulbait As. Di antaranya tidak dapat diterima bahwa yang dimaksud dengan “al-mawaddah fi al-qurba” adalah Ahlulbait As. Karena ayat yang disebutkan pada surah Syura dan apakah surah ini merupakan surahMakkiyah, dimana Fatimah Zahra, Hasan dan Husain belum atau tidak ada (ketika itu) sehingga kecintaan kepada mereka menjadi upah risalah!
Dalam menjawab pertanyaan ini harus dikatakan bahwa: Pertama, mayoritas penafsir berkata bahwa keempat ayat surah al-Syura ini merupakan surah Madani bukan Makkiyah. Kedua, banyak riwayat yang memandang bahwa pewahyuan ayat ini berlangsung di Madinah. Ketiga, yang menjadi kriteria surah tergolong Makkiyah atau tidak bukan terletak pada pra hijrah atau pasca hijrah, boleh jadi setelah hijrah terdapat surah yang diturunkan di Makkah, misalnya para hajjatul widâ’ dan setelah kelahiran Fatimah, Hasan, dan Husain.[32]Untuk menjawab kritikan dan isykalan ini secara detil kami akan alokasikan pada kesempatan yang lain.[]
Kami cukupkan tulisan ringkas ini di sini dan mereka yang tertarik untuk meriset dan menelaah lebih jauh kami persilahkan untuk merujuk kepada sumber-sumber di bawah ini:
1.       Ihyâ al-Mayyit bifadhâil Ahlulbait, Suyuthi, hal. 8.
2.       Al-Shawâiq al-Muhriqah, Ibnu Hajar, hal. 101.
3.       Al-Mizân, Allamah Thabathabai, jil. 18, hal. 51-53.
4.       AhlulbaitMaqâmuhum, Manhâjuhum, Masâruhum, hal. 14-19.
5.       Payâm-e Qur’ân, Makarim Syirazi, jil. 9, hal. 225-237
6.       Tafsir Qurthubi, jil. 8, hal. 5843, jil. 16, hal. 21-22.
7.       Tafsir Nemune, jil. 7, hal. 174 dan jil. 11, hal. 369, dan jil. 12, hal. 95.
8.       Jami’ al-Bayân, Thabari, jil. 25, hal. 16.
9.       Mustadrak al-Shahiain, Hakim Naisaburi, jil. 3, hal. 173.
10.   Hilyat al-Awliyâh, Hafiz Abu Nu’aim Isfahani, jil. 3, hal. 201.
11.   Dzakhâir al-Uqba’, Muhibuddin Thabari, hal. 138.
12.   Ruh al-Ma’âni, jil. 25, hal. 32.
13.   Kanz al-‘Ummâl, jil. 1, hal. 118.
14.   Majma’ al-Bayân, jil. 9, hal. 28, 29, 50; jil. 7 dan 8, permulaan surah al-Mukmin, hal. 512.
15.   Majma’ al-Zawâid, jil. 9, hal. 168.

[1]. “Katakanlah (Wahai Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu suatu upah pun atas seruanku ini kecuali kecintaan kepada keluargaku.” 
[2]. Indikasi-indikasi (qarain) terdiri dari dua jenis: Indikasi yang terdapat pada proposisi atau kalimat atau berada di luar namun terpendam ucapan padanya dimana indikasi semacam ini disebut  sebagai indikasi bersambung (qarinah muttasil). Dan indikasi yang terdapat pada ucapan dan belum terjamah dan pembicara menyampaikan maksudnya pada kesempatan lain. Indikasi semacam ini disebut sebagai indikasi terputus (qarinah munfasil).
[3]Maqaiis al-Lugha menyebutkan: “Fulan dzu qirabati. Huwa man yaqrub minka rahiman.” (Si fulan memiliki kekerabatan. Dia adalah orang yang dekat kepadamu secara nasab) Dan melanjutkan “al-Qurba wa al-Qirabah be ma’na wahid.” (al-Qurba dan qirabah itu bermakna tunggal) Lisan al-Arab dalam hal ini menjelaskan: “Qirabah dan qurba bermakna kekerabatan dalam nasab. Dan yang lain berkata, “al-qurbâ (keluarga) dalam nasab dan al-qurbatu pada kedudukan. Dan aslinya keduanya adalah satu. Aqrab al-Mawarid, jil. 2, hal. 978.
[4]. “Wa bil walidain ihsana wa dzil qurba wa al-yatama” (Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kaum kerabat, anak-anak yatim, Qs. Al-Baqarah [2]:83)
[5]. “Wa ata al-Mal ‘ala hubbihi dzawi qurba wa al-yatama” (Dan para nabi; memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, Qs. Al-Baqarah [2]:177) 
[6].  “Tiadalah sepatutnya bagi nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (mereka)”Qs. Al-Taubah [9]:113)
[7]. Zamakhsyari dalam hal ini menjelaskan: “al-Qurba adalah mashdar sepert zulfa dan al-busyra, yang bermakna al-qirabah dan maksudnya pada ayat adalah “ahlul qurba”. Al-Kassyaf, jil. 3, hal 81, terkait surah al-Syura ayat 23. 
[8]. “Mencintai segala perkara yang mengajak manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan” adalah tafsir atas kandungan ayat ini.
[9]. Namun pandangan ini memiliki isykalan lainnya yang telah dibahas pada tempatnya, misalnya redaksi mahabat dan mawaddah tidak selaras dengan makna ini; karena apa yang menyebabkan kedekatan kepada Allah adalah menunaikan shalat dan sebagianya, bukan (sekedar) mawaddah dan mahabbat mereka. Di samping itu,  memangnya di antara para lawan bicara Nabi Saw tidak menyukai masalah ini dan ayat diturunkan kepadanya… Silahkan lihat al-Mizan, jil. 18, hal. 45-46; Tafsir Maudhu’i Payâm-e Qur’ân, jil. 9, Makarimi Syirazi, hal. 225-237.
[10]Tafsir al-Mizân, Allamah Thaba-thabai, jil. 18, hal. 45-46.
[11]. Karena Nabi Saw dari pihak ibu dan dari pihak Salma binti Zain al-Naijariyah memiliki kekerabatan dengan kaum Anshar. 
[12] Misalnya orang-orang Arab berkata:
Banuna banu abnaina wa banatina
Banuhunna abna al-rijal al-abai’d
Putra-putra putri kami adalah putra-putra pria asing
[13]Al-Mizân, Allamah Thabathabai, jil. 18, hal. 43-45; Tafsir Maudhu’i Payâm-e Qur’ân, jil. 9, hal. 225-237
[14]Mafâhim al-Qur’ân, Ja’far Subhani, jil. 10, hal. 268-269. 
[15]. Kemungkinan ini tidak hanya tidak menyokong ayat ini, namun juga tidak sejalan dengan upah risalah, memangnya seluruh orang Quraish (sekiranya obyek ayat ditujukan kepada kaum Quraish) atau seluruh manusia (apabila obyek ayat ditujukan kepada seluruh manusia) memiliki kekerabatan dengan orang mukmin kemudian melalui kecintaan kepada mereka harus menyerahkan upah risalah.  Lihat, Al-Mizan, Allamah Thabathabai, jil. 18, hal. 45; Payam-e Qur’an, jil. 10, hal. 225-237.
[16]“Dan (dia berkata), “Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepadamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah, dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman itu. Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku.” (Qs, Hud [11]: 29 & 51); “Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Dan sekali-kali aku tidak meminta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.”  (Qs. Al-Syuara [26]: 109, 127, 145, 164 dan 180)
[17]“Katakanlah, “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur’an). Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk umat semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]:90)
[18]“Katakanlah, “Aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan orang yang mau mengambil jalan menuju Tuhan-nya, (dan inilah upahku).” (Qs. Al-Furqan [25]:57)
[19]Al-Mizân, jil. 18, hal. 42-49; Mafâhim al-Qur’an, jil. 10, hal. 261-274; Payâm-e Qur’ân, jil. 9, hal. 225-237.
[20]Al-Sirah al-Nabawiyah, jil. 1, hal. 293-294; Syaikh Mufid Ra dalam hal ini berkata: “Perbuatan (amal) harus ditujukan semata untuk Tuhan dan penuh keikhlasan, dan apa yang dilakukan untuk Tuhan, maka ganjarannya pada Tuhan bukan pada yang lain. Dan Nabi Saw pada seluruh hidupnya  sendiri demikian adanya. (Tashih al-I’tiqad, hal. 68)
[21]. Imam Shadiq As dalam sebuah riwayat bersabda: “Maa AhabbaLlah Azza wa Jal man ‘ashahu” (tidak mencintai Allah orang yang bermaksiat kepada-Nya) kemudian beliau membacakan syair berikut ini:
Ta’sha Allah wa anta Tuzhir Hubbah
Hadza Muhal fi al-fa’al badi’
Lau kana hubbuka shadiqan laa thatahu
Inna al-mahabbah liman yuhibbu muthi’ 
Engkau bermaksiat kepada Allah sementara Engkau ungkapkan cinta (kepada-Nya)
Hal ini merupakan sesuatu yang mustahil bagi orang-orang utama
Sekiranya cintamu itu benar adanya maka engkau pasti mentaati-Nya
Sesungguhnya cinta itu mentaati orang yang dicintainya
(Safina al-Bihar, klausul Hubb)
Mahabbah ditujukan untuk ketaatan dan ketaatan dimaksudkan untuk hidayah dan hal ini merupakan terjawabnya doa yang disebutkan pada ayat 57, surah al-Furqan. 
[22]. Pada ayat Mubâhâlah, Ali disebut sebagai jiwa Nabi Saw. 
[23]. “Inna al-Husain misbah al-Huda wa Safinat al-Najâh” (Sesungguhnya Husain adalah pelita hidayah dan bahtera keselamatan.  (Safinah al-Bihar, jil. 1, hal. 387.)
[24]. Rasulullah Saw: Matsal Ahlubaiti fiikum matsala safinatu Nuh, man Rakibahâ najah” (Permisalan Ahlulbaitku bagi kalian adalah laksana bahterah Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat), Lihat  Kanz al-‘Ummâl, jil. 6, hal. 216; Ahlulbait Maqâmuhum, Manhâjuhum, Masâruhum, hal. 44-46. 
[25]. Rasulullah Saw bersabda: Ana madinatul Ilm wa ‘Aliyin Bâbuha..(Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah gerbangnya) 
[26]. Dalam doa Nudbah disebutkan: Fakanû hum al-Sabil ilaika wa al-maslak ilaa ridwanik” (Mereka adalah jalan kepada-Mu dan wahana kepada keridhaan-Mu)
[27]Syawâhid al-Tanzil, jil. 2, hal. 130, 131, 135, 140. 
[28]Al-Durr al-Mantsur, jil. 6, hal. 7 
[29]Ihqâq al-Haq, jil. 3, hal. 2; Ghâyat al-Marâm, tafsir ayat. 
[30]Tafsir al-Kasysyâf, jil. 4, hal. 220-221. 
[31]Tafsir Kabir Fakhrurazi, jil. 27, hal. 165-167. 
[32]Tafsir Maudhui Qur’ân Karim, Abdullah Jawadi Amuli, jil. 8, hal. 341.
READMORE
 

Pengorbanan Ahlul bait a.s. dalam Al-Quran

 إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِن كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا ﴿٥
عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا عِبَادُ اللَّـهِ يُفَجِّرُونَهَا تَفْجِيرًا ﴿٦ يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا ﴿٧ وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّـهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا ﴿٩ إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا ﴿١٠
Sesungguhnya orang- orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas ( berisi minuman ) yang campurannya adalah air kafur. ) yaitu) mata air ( dalam surga )yang daripadanya hamba- hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik- baiknya. Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana- mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ( ucapan ) terima kasih. Sesungguhnya Kami takut akan(azab ) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang- orang bermuka masam penuh kesulitan.(Surah Al-Insan, 5-10).

Pembahasan

Salah satu keutamaan penting bagi Imam Ali a.s. dan para imam yang lain yang memuat pelajaran berharga adalah ayat-ayat surah Al-Insan. ­­­18 ayat dari 31 ayat surah ini berkaitan dengan keutamaan yang sangat tinggi tersebut. Sebagaian pembahasan dari 18 ayat  itu menyinggung kisah Ith'am, sedang 14 ayat lainnya membahas pahala yang akan diterima oleh keluarga mulia yang disebut di dalamnya.

Kondisi(keadaan) Turunnya Ayat-ayat Tersebut

Terdapat banyak kitab yang memaparkan riwayat sebab turunnya ayat-ayat di atas. Allamah Amini dalam kitabnya Al-Gadir, menukil sebuah riwayat dari 34 kitab ulama Ahli sunah, sedang Marhum Qadhi Nurullah Syusytari menyatakan riwayat itu dapat dijumpai dalam 36 kitab mereka. Oleh karena itu, riwayat yang menceritakan sebab turunnya ayat-ayat ini adalah mutawatir. Riwayat tersebut demikian:
Pada waktu kecilnya, Imam Hasan dan Imam Husain a.s. menderita sakit, Rasulullah akhirnya datang ke rumah Ali dan Fatimah untuk menjenguk kedua cucunya yang sakit tersebut. Saat melihat kedua buah hatinya, Rasul bersabda kepada Imam Ali a.s.: nazarlah, supaya Allah menghilangkan penyakit mereka!"
Setelah mendengar itu, Ali a.s. langsung berkata: Ya Allah jika kedua anakku ini sembuh maka aku akan berpuasa selama tiga hari. Fatimah juga bernazar demikian; bahkan Imam Hasan Dan Imam Husain –kendati usia mereka masih kecil- melakukan hal yang sama yaitu mengikuti orang tua mereka berpuasa selama tiga hari. Fidhah, pembantu rumah mulia itu kemungkinan besar bernazar hal yang sama.
Tak lama kemudian penyakit dua buah hati Rasul tersebut hilang, dan tiba saatnya bagi mereka untuk melaksanakan nazar. Pada hari pertama, Ali a.s. telah menyiapkan tepung jo(sejenis gandum; kwalitasnya lebih rendah dari gandum) untuk buka puasa selama tiga hari tersebut dan tepung tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian darinya diperuntukkan untuk membuat roti sebagai santapan buka puasa pada hari pertama. Saat hendak berbuka, terdengar suara ketukan pintu, penghuni rumah menuju pintu untuk mengetahui siapa gerangan yang berada di balik pintu. Ternyata di situ sudah berdiri seseorang yang berkata: Salam atasmu wahai Ahlul bait. Kemudian dia berkata, aku adalah orang msikin dan butuh bantuan, maka bantulah diriku!
Imam Ali  a.s. memberikan rotinya kepada si miskin, Fatimah juga melakukannya; bahkan semua anggota keluarga yang lain juga menyedekahkan jatah buka puasanya yang tak lain sepotong roti kepada orang miskin yang datang. Dan pada hari itu mereka berbuka dengan air putih saja.
Hari berikutnya mereka juga berpuasa dan dengan sepertiga tepung tadi mereka siap berbuka, akan tetapi terdengar suara dari luar rumah yang berkata:" Salam atasmu wahai Ahlul bait. Merekapun keluar dan bertanya: siapakah anda dan apa keperluanmu? Dia menjawab, saya salah seorang anak yatim di kota ini, aku lapar tolong berikan aku makanan untuk mengisi peutku yang kosong ini. Kembali Ali a.s. memberikan jatah buka puasanya kepada yatim itu dan anggota keluarga yang lain juga dengan penuh keikhlasan mengikuti beliau. Dengan demikian malam kedua sama seperti malam pertama, buka puasa mereka dengan air putih saja.
Pada hari ketiga sesuai nazar, mereka menyempurnakan puasa mereka dan sebagaimana hari pertama dan kedua kisah itu terulang lagi. Kali ini seorang tawanan yang datang dan meminta bantuan dari keluarga suci ini, lagi-lagi seluruh keluarga ini memberikan jatah buka puasa mereka kepadanya dan untuk ketiga kalinya mereka berbuka dengan air saja. Dan akhirnya nazar itu terbayar juga.
Pada hari berikutnya, Rasulullah Saw sangat sedih melihat imam Hasan dan imam Husain dalam keadaan lemas yang akibatnya badan mereka bergetar. Di sisi lain, mata sayidah Fatimah cekung. Beliau bertanya kepada Ali: wahai Ali, kenapa anak-anak begitu lemah seperti ini dan kenapa raut muka putriku memudar?
Imam Ali a.s. menuturkan kisah yang telah mereka alami dan pada saat itu malaikat Jibril datang dengan membawa ayat-ayat surah Al-Insan ini.

Penjelasan Dan Tafsir

Lima Ciri-ciri Ahlul bait a.s.

Empat ayat dari 18 ayat surah ini membahas amal yang dilakukan oleh keluarga suci ini dan 14 ayat lainnya Allah menyebutkan pahala pekerjaan mereka. Berikut ini 4 ayat tersebut di sana terdapat lima ciri-ciri Ahlul bait a.s.:
إجراء يمين والوعد

Menjalankan sumpah dan janji


Pekerjaan pertama keluarga ini yang harus dicontoh oleh seluruh Syi'ah adalah melaksakan nazar. Akan tetapi sebagain Syia'h saat dihimpit oleh musibah mereka bernazar akan tetapi saat nazar itu telah tiba masanya mereka lupa dan mencari-cari alasan untuk tidak melaksanaknnya. Memang sebagai kaum muslim merupakan misdaq dari ayat ini:


فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ ﴿٦٥
Saat mereka menaiki perahu maka menyeru Allah dengan penuh keikhlasan, (akan tetapi) saat mereka berada di daratan merekakembali musyrik.

Sedang Ahlul bait a.s. tidaklah demikian dan bukan hanya nazar saja yang mereka lakukan namun semua janji dan kesepakatan mereka kerjakan; karena  salah satu tanda-tanda keimanan[2] dan muslim sejati adalah menjalankan segala janji apapun kesulitan yang akan menimpa.

Takut Terhadap Hari Kiamat  

æóíóÎóÇÝõæäó íóæúãðÇ ßóÇäó ÔóÑøõåõ ãõÓúÊóØöíÑðÇ ciri kedua Ahlul bait yang cukup dominan dan disebut oleh Allah Swt dalam ayat ini adalah mereka takut akan hari kebangkitan.  Perlu dipahami bahwa ini bukan berarti di sana akan terjadi kezaliman dan hak-hak akan diinjak-injak. Akan tetapi mereka takut karena pengadilan ilahi; mengingat semua amal perbuatan manusia dari yang terkecil hingga yang terbesar akan dimintai pertanggung jawaban. Sebuah pengadilan yang tolok ukurnya terdapat dalam dua ayat berikut: Ýóãóä íóÚúãóáú ãöËúÞóÇáó ÐóÑøóÉò ÎóíúÑðÇ íóÑóåõ   
   æóãóä íóÚúãóáú ãöËúÞóÇáó ÐóÑøóÉò ÔóÑøðÇ íóÑóåõ oleh karenanya wajar jika seseorang merasa takut.

Membantu Orang Yang memerlukan

æóíõØúÚöãõæäó ÇáØøóÚóÇãó Úóáóì ÍõÈøöåö ãöÓúßöíäðÇ æóíóÊöíãðÇ æóÃóÓöíÑðÇ
Ciri ketiga Ahlul bait a.s. yang menjadi poros pembahasan ayat-ayat ini adalah membantu orang yang memerlukan. Keluarga suci ini rela memberikan hal-hal yang mereka perlukan sendiri untuk kepentingan orang fakir. Mereka membantu orang miskin, anak yatim dan tawanan. Dalam ayat ini tiga kelompok masyarakat ini disebut oleh al-Quran.
a. Miskin, kata ini diambil dari kata sukun, yang berarti orang yang tidak memiliki apa-apa, kepapaan telah menindih mereka dan membuat mereka melekat ke bumi.
b. Yatim, adalah seseorang yang sudah kehilangan pengayomnya. Seorang yatim bisa jadi tidak merasa kekurangan dalam sisi materi, akan tetapi secara psikologis dia kering akan kasih sayang. 
c. Tawanan, adalah orang yang jauh dari rumah, kota dan tempat tinggalnya dan berada di kota lain sendirian dan tidak memiliki siapa-siapa.  Seorang tawanan bisa jadi di kota asalnya orang yang cukup akan tetapi saat ditawan dia membutuhkan bantuan dan uluran tangan.
Kongklusinya, seorang mukmin hendaknya membantu orang yang membutuhkan sesuai kemampuan yang dimiliki. Dewasa ini, sebagaian tiga kelompok masyarakat tersebut sudah tidak ada lagi, akan tetapi ada kelompok lain yang juga membutuhkan bantuan.

Ikhlas

ÅöäøóãóÇ äõØúÚöãõßõãú áöæóÌúåö Çááøóåö áóÇ äõÑöíÏõ ãöäßõãú ÌóÒóÇÁ æóáóÇ ÔõßõæÑðÇ  
Ciri dan keutamaan Ahlul bait yang keempat adalah keikhlasan luar biasa mereka. Mereka berkata: bahwa bantuan yang kami salurkan kepada kalian wahai miskin, yatim dan tawanan hanya untuk mengahrap ridho ilahi, dan kami tidak menginginkan balasan sepeserpun dari kalian.
Apakah orang biasa dapat mengatakan seperti ini? Lebih dari itu, jika ucapan terima kasih diganti umpatan dan cemoohan, keluarga suci ini juga tetap pada posisi mereka.
Ikhlas merupakan hal yang sangat berharga dan langka, oleh karena itu Islam selalu menekankan masalah kwalitas dan cara pelaksanaan amal bukan kwantitas; artinya satu rakaat salat yang penuh ikhlas itu lebih bernilai di sisi Allah Swt dari pada seribu rakaaat tanpanya.

Takut Kepada Allah Swt

ÅöäøóÇ äóÎóÇÝõ ãöä ÑøóÈøöäóÇ íóæúãðÇ ÚóÈõæÓðÇ ÞóãúØóÑöíÑðÇ
Ciri kelima mereka adalah takut kepada Allah. Pada ciri kedua, yaitu takut akan hari kebangkitan telah disebutkan dan sekarang disebut masalah takut kepada Allah, apakah kedua hal ini berbeda?
Jawab, tidak mesti takut kepada Allah dikarenakan siksaan api neraka-Nya di hari kiamat kelak, karena bisa jadi ketakutan tersebut berasal dari zat itu sendiri. Saat manusia memikirkan keagungan Allah Swt maka rasa takut akan menguasainya dan seluruh tubuhnya akan gemetar. Sebagaimana seseorang yang menemui tokoh penting dan ingin mengutarakan sesuatu, bisa jadi karena kebesaran tokoh tersebut dia gemetaran dan tidak mampu mengeluarkan kata-kata; padahal tokoh tersebut orang yang sangat peramah, baik budi dan yang lain. Oleh karena itu ciri kelima ini bukan ulangan dari ciri kedua, dan maksud dari takut kepada Allah adalah disebabkan keagungan dan kebesaran-Nya.

Pahala-pahala Sebuah Itsar Yang Ikhlas

Sebagaimana telah disebutkan 14 ayat dari 18 ayat surah ad-Dahr berkaitan dengan kisah pengorbanan dan sedekah keluarga Ali a.s. juga menjelaskan pahala-pahala yang berlimpah dari pengorbanan yang besar ini; dengan penuh keyakinan dapat dikatakan bahwa tidak ada di dalam al-Quran sebuah amal  yang memiliki pahala sebesar ini; pahala perbuatan itu disebut lima belas kali secara beruntun dan jika yang kecil-kecilnya dihitung juga maka dalam 14 ayat ini akan didapati 20 pahala. Pahala-pahala ini akan kami jelaskan dalam 12 poin. Namun sebelum itu perlu disampaikan beberapa pendahuluan berikut ini:

Perbandingan antara Pahala Duniawi dan Ukhrawi

Tanpa diragukan lagi pahala ukhrawi berbeda dengan pahala duniawi; karena bagaimanapun penjelasan pahala tersebut menggunakan ungkapan-ungkapan duniawi akan tetapi masih memiliki kandungan ukhrawi. Oleh karena itu, saat kita mendengar kenikmatan ukhrawi hanya sebuah terkaan dari realita dunia akhirat dan jangan berharap kita dapat memahami secara utuh hakikat dari nikmat-nikmat dunia lain itu. Sebagaimana sebuah janin yang di perut ibu, walaupun dia Abu Ali Sina sekalipun tidak akan mampu memahami hakikat-hakikat yang ada di dunia; kendatipun sang ibu menggambarkan hakikat dunia dengan gambaran yang terbaik yang dapat ditangkap adalah sekedar terkaan biasa. Atas dasar ini kita membaca sebuah riwayat dari Rasulullah Saw yang bersabda: “sesungguhnya Allah berkata: Aku telah menyiapkan untuk hamba-hambaku yang saleh sesuatu yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia.”[3]
Oleh karena itu bisa jadi sebuah lafadz dalam dunia ini memiliki arti akan tetapi kata itu jika digunakan untuk kenikmatan surgawi akan memiliki pengertian yang berbeda atau bahkan bertolak belakang. Pada pembahasan mendatang pembahasan ini akan kami jelaskan secara panjang lebar. Berikut ini 12 kenikmatan yang diterima oleh Ahlul bait berkatitsar yang mereka lakukan:
1.  Ketenangan. Nikmat pertama yang akan mereka terima adalah ketenangan. Allah akan menghilangkan dari mereka problematika hari kiamat dan meliputi mereka dengan kebahagiaan. Ketenangan dianggap sebagai nikmat pertama mengindikasikan bahwa nikmat ini sangat bernilai sekali. Ketenangan di dunia dan di akhirat merupakan nikmat terbesar dan terpenting. Di dunia begitu banyak orang yang memilki fasilitas namun mereka tidak memiliki ketenangan; seluruh fasilitas dan kenikmatan orang-orang semacam ini sebenarnya sarana siksaan bagi mereka. Sehingga tidak aneh jika banyak orang-orang kaya yang bunuh diri. Konon di salah satu kota di Amerika terdapat sebuah hutan yang kerap dipanggil dengan hutan bunuh duru di mana mayoritas pengunjung hutan ini orang-orang kaya dan para pemodal yang memiliki segala sesuatu selain ketengan! Di satu sisi kita melihat manusia-manusia yang memiliki fasilitas yang sangat minim dan memiliki kebutuhan primer yang tidak memadai namun mereka hidup dalam kondisi yang senang dan riang karena mereka memiliki ketenangan
Jika ditanyakan bagaimana caranya mendapatkan nikmat yang sangat besar dan bernilai ini? Untuk menjawab pertanyaan ini kita dapat mengatakan: Allah Swt mengatakan dalam surah al-An’am yang isinya nikmat ketenangan itu dapat diraih oleh orang-orang yang beriman. Dalam ayat itu Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan keimanan mereka dengan kezaliman maka bagi mereka adalah ketenangan dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah.”
Dalam ayat 28 dalam surah ar-Ra’d juga telah dijelaskan bahwa mengingat Allah merupakan sumber abadi dari anugrah dan berkah serta menjadi sebab ketenangan hati.
2.  Taman-taman syurgawi. Nikmat lain yang akan menjadi pahala merka adalah taman-taman tersebut dimana semuanya berbeda dengan taman-taman yang ada di dunia. Taman-taman yang di bawahnya selalu dialiri oleh air, taman-taman yang tidak pernah berhenti untuk berbuah para pengunjungnya tidak perlu menyusahkan diri untuk memetik buahnya akan tetapi setiap kali mereka menginginkan buah tersebut ranting-ranting pohon itu akan datang menghampirinya.
3.  Ketengan dan istirahat. Araik jamak dari arrikah yang bermakna ranjang pengantin kemudian kata ini digunakan juga untuk seluruh ranjang yang indah. Para penduduk syurga di dalam taman-taman akan bersandar di atas ranjang-ranjang dan menyaksikan kenikmatan syurgawi. Ungkapan muttiqiin merupakan ungkapan yang indah karena manusia saat memiliki ketenangan dia akan tenang bersandar, akan tetapi orang yang sedang gunjang tidak akan bisa duduk denganm tenang akan tetapi dia akan mondar mandir ke sana dan ke mari.
4.  Suasana asri yang mengenakkan. Hawa syurga sangat normal di sana tidak ada sengatan panas matahari sehingga penghuninya putuh pada pendingin juga tidak dingin yang membuat orang butuh pada pemanas; akan tetapi hawa di sana selalu mengabarkan musim semi di padu dengan serpihan angin semilir. Tanpa diragukan lagi pada hawa normal semacam ini bersandar diatas ranjang-ranjang indah syurga di bawah naungan pohon-pohon yang padat dengan buah-buah merupakan kenikmatran yang tidak dapat digambarkan.
Soal: dalam ayat ini dijelaskan bahwa matahari tidak ada di Syurga, akan tetapi dalam ayat-ayat selanjutnya disebutkan bayangan-bayangan pohon-pohon syurga. Jika di dalam syurga matahari tidak ada lalu bagaimana mungkin di sana ada bayangan-bayangan pepohonan. Apakah ayat ini tidak bertentangan satu sama lain?
Jawab: pertama, al-Quran tidak mengatakan bahwa di syurga tidak ada matahari akan tetapi mengatakan matahari tersebut tidak dapat di lihat, artinya pohon-pohon syurghawi begitu lebatnya sehingga dari cela-cela dedaunannya pu para penghuni syurga tidak dapat melihat matahari. kedua, maksud dari firman Allah: áÇ íÑæä ÝíåÇ ÔãÓÇ adalah matahari yang panas dan menyengat tidaka akan ada, sedang keberadaan matahari yang normal itu tidak dinafikan. Oleh karena itu  di dalam ayat ini tidak terdapat pertentangan.
5.   Naungan dan Buah-buahan. Naungan-naungan pepohonan syurga meliputi para penghuni syurga dan buahnya sangat mudah dipetik; sehingga sebgaimana telah disebutkan para penghuni syurga tidak pernah kerepotan untuk mendapatkannya.
6.   Para pembantu abdi-abdi yang muda belia setiap penghuni syurga membutuhkan sesuatu disisi mereka telah seap para abdi-abdi muda belia yang rupawan laksana mutiara yang bertebaran. Dan tidak perlu mereka dipanggil karena mereka selalu hadir di tengah-tengah mereka.
7.  Di sana yang sangat indah segala jenis busana-busana indah telah disiapkan untuk para penghuni syurga; baik dari sutra tipis atau sutra tebal bahkan busana-busana yang di waktu didunia diharamkan untuk kaum laki-laki di akhirat itu dapat dipakai.
8.  Alat-alat perhiasan. Memakai segala perhiasan itu diperbolehkan sehingga tangan-tangan para penduduk syurga dipenuhi oleh gelang-gelang perak.
9.  Peralatan rumah tangga jenis piring-piring dan minuman itusangat penting jika makanan terbaik diletakkan di sebuah tempat yang tidak baik adn kotor maka itu akan menghilangkan selara manusia dan sebaliknya, jika makanan biasa diletakkan di sebuah tempat yang indah bersih dan serasi maka selera seseorang akan bertambah. Oleh karena itu segala macam tempat baik kecil atau besar dan peralatan lain yang terdiri dari perak akan disediakan untuk para penghuni syurga. Dan perlu difahami bahwa perak di dunia berbeda dengan perak di sana.
10. Beragam anekan nikmah. Saat mereka memasuki syurga dan melihat nikmat-nikmat yang belum mereka rasakan mereka menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan dengan mata kepala sendiri nikmat-nikmat yang tidak bisa disifati.
11. Kerajaan yang besar. Para penduduk syurga dari segi fasilitas pelayanan dan kedudukan begitu besarnya seakan-akan setiap dari mereka memilki pemerintahan tersendiri.
12. Aneka macam minuman syurgawi. Salah satu nikmat alllah Swt yang sering kali diulang dan dijanjikan adalah aneka macam minuman syurgawi. Minuman- minuman yang bukan hanya mencuri akal dan benak manusia akan tetapi membawa kebugaran dan ketenangan. Dalam ayat-ayat surah ad-Dahr telah disebutkan tiga macam minuman syurgawi:
a. Minuman Kapur oarng-orang yang baik dan berbudi luhur akan meminum sebuah minuman yang dicampur dengan minyak wangi kapur yang sangat bagus. Kapur adalah bahan anti bakteri yang biasa digunakan untuk memandikan mayit supaya badan mayit selamat dari bakteri, akan tetapi dalam bahasa arab kapur memiliki arti yang lebih luas lagi dan mencakup semua hal yang berbau wangi; dengan demikian maksud dari minuman kapur adalah minuman yang memiliki wangi khusus di mana saat para penghuni syurga meminumnya dari baunya mereka merasa bahagia.
b. Minuman zanjabil.  Zanjabil dalam bahasa arab juga diartikan pada maksudnya yang masyhur juga dipakai untuk sebuah minyak wangi khusus, dan pada ayat ini arti kedua yang diinginkan oleh karena itu para penghuni syurga akan dituangi sebuah minuman yang dicampur dengan minyak wangi zanjabil.
c. Minuman yang suci. Minuman ketiga yang akan dinikmati oleh para penghuni syurga adalah minuman thahur di mana Allah yang akan menuang minuman tersebut.
Ungkapan yang berkaitan dengan tiga ungkapan di atas perlu dicermati; dalam minuman kapur dijelaskan mereka akan minum dengan tangan mereka sendiri. Dan pada minuman zanjabil diungkapkan dengan dituangi yang berarti merka akan dituangi minuman tersebut oleh para abdi-abdi. Sedang berkaitan dengan Syarab thahur dikisahkan tuhan mereka yang akan menuangnya.

Apa itu Syarab Thahur?

Dalam sebuah riwayat disebutkan saat para penghuni syurga meminum syarab thahur: minuman ini akan menyucikannya dari segala sesuatu selain allah[4]. Rasulullah Saw dalam hadis yang lain mengatakan faidah dari minuman thahur: Allah akan menyucikan hati mereka dengannya dari penyakit hasad.[5] Iri hati merupakan salah satu musibah kehidupan umat manusia terkadang manusia memiliki segala kenikmatan dan fasilitas, akan tetapi dia tidak sanggup melihat keberhasilan orang lain.

Pesan-pesan Ayat

1.  Pentingnya membantu orang yang membutuhkan. Inti pembahasan 18 ayat surah ini berkaitan denga hal penting ini. Dan ini merupakan perhatian luar biasa Allah Swt terhadap mereka.
2.  Kwantitas bukan tolok ukur.salah satu pesan penting ayat-ayat surah dahr ini adalah nilai sebuah amal beragntung kepada kwlitas dan bagaimana pekerjaan itu dilakukan. Karena sedekah yang mereka lakuka tak lebih dari beberapa kilo gandum, namun saat perbuatan itu dilandasi oleh keikhlasan maka Allah memberikan balasan yang luara biasa.

[1]Surah Al-Ankabut, ayat 65.
[2]Dalam hal ini terdapat beberapa riwayat yang dapat dirujuk dalam kitab Mizanul hikmah, bab 302, jilid 1, halaman 346.
[3] Payome Quran, jilid 6, hal 302.
[4] Bihar al-Anwar jilid 8, hal 118.
[5] Bihar al-Anwar jilid 8, hal 157.



READMORE