Welcome to My lovely Blog

Random

create your own banner at mybannermaker.com!
Copy this code to your website to display this banner!
http://adf.ly/EWRNQ

Hadiths/aLQur'an

Hadiths/aLQur'an
Dhul Hijja

Syi’ah Bukan Rafidhah

                                                                          Gambar Hiasan

Syi’ah Bukan Rafidhah
Al ‘Uqaili berkata, “Muhammad ibn Ismail menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Hasan ibn Ali al Hulwâni Ismail menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Muhammad ibn Daud al Haddâni Ismail menyampaikan hadis kepada kami, ia berkata, Aku mendengar Isa ibn Yunus berkata, ‘Aku tidak pernah menyaksikan al A’masy tunduk kecuali sekali, yaitu ketika ia menyampaikan hadis ini, Ali berkata, “Aku adalah pembagi api neraka.” Sampailah berita itu kepada (tokoh-tokoh) Ahlusunnah, maka mereka mendatanginya dan berkata, ‘Mengapakah engkau menyaimpaikan hadis-hadis yang menguatkan orang-orang Rafidhah, orang-orang Zaidiyah dan orang-orang Syi’ah?! Maka ia berkata, ‘Aku mendengarnya lalu aku sampaikan.’ Mereka berkata, ‘Apakah semua yang engkau dengar, harus engkau sampaikan?!!
Ia (Isa ibn Yunus) berkata, “Maka aku menyaksikannya tunduk pada hari itu.” (Dhu’afâ’:4/46)

Dari kutipan data di atas dapat disimpulkan dua hal:
Pertama, Bahwa Syi’ah bukan Rafidhah, dengan demikian kebiasaan kaum Neo Nawashib/Salafy/Wahhabi yang menyebut-nyebut Syi’ah dengan embel-embel Rafidhah adalah menyahali ulama Ahlusunnah wal Jama’ah.
Kedua, Sikap keberatan yang sangat dalam menyampaikan hadis-hadis sahih tentang keutamaan Imam Ali as. sebab khawatir dijadikan senjata orang-orang diluar Ahlusunnah. Dan dengan sikap arogansi kemazhaban ini mereka berharap hadis-hadis keutamaan Imam Ali as. tidak akan tersebar dan diketahui umat Islam agar mereka dapat dengan mudah dibodohi …. dan tentunya ini sangat membahagiakan musuh-musuh Ahlulbait as. dan mendinginkan hati Mu’awiyah dan antek-anteknya yang selalu ada di setiap zaman.
READMORE
 

Kesadaran !

Hakekat.com Situs Pendusta dan Kedunguannya Tentang Sejarah  

Hakekat.com situs yang dibangga-banggakan oleh para Nashibi tidak lebih dari seorang pendusta lagi dungu. Betapa tidak, orang ini berbicara dengan gaya sok seolah-olah ia paling tahu paling mengerti soal mahzab syiah padahal hakekatnya ia tidak lebih seorang pendusta. Mungkin para pembaca yang awam mudah sekali terkesima dengan bualan-bualannya tetapi perhatikanlah baik-baik wahai pembaca jika anda semua menyediakan waktu sedikit saja untuk membaca kitab-kitab asli mahzab Syiah Ahlul Bait maka anda akan mengetahui hakekat dusta dari situs hakekat.com tetapi sungguh sayang seribu kali sayang masih saja ada orang bodoh yang mau mengenal Syiah dari situs nashibi hakekat.com.
Ternyata dan ternyata tong kosong nyaring bunyinya, hakekat.com mengaku sok pintar dengan rumah orang lain tapi ia buta akan rumahnya sendiri. Cih sungguh tak tahu malu dan hakekat.com tak pernah menyadari akan kebodohannya. Para pembaca yang terhormat maka perhatikanlah bukti jelas yang akan satria sampaikan, bukti kalau hakekat.com berdusta atas nama sejarah bukti kalau hakekat.com tidak memiliki keilmuan yang mapan bahkan tentang sumber mahzabnya sendiri dan orang seperti itu sungguh tidak layak berbicara mahzab orang lain. Lihatlah apa yang ia tulis dalam salah satu tulisannya
dusta hakekat.com
hakekat.com berdusta
Baca dan baca maka ternyata ia seorang pendusta, hakekat.com dengan gaya angkuh berkata “sejarah tidak pernah mencatat adanya upaya dari Abbas paman Nabi utnuk menuntut harta warisan seperti yang dilakukan Fatimah”. Pemilik situs hakekat.com ternyata tidak pernah membaca kitab sejarah, ia juga tidak pernah membaca kitab-kitab hadis. Huh apa hakekat.com tidak pernah membaca kitab yang katanya paling shahih setelah Al Quran yaitu Shahih Bukhari?. Ternyata tidak, buktinya Upaya Abbas menuntut harta warisan Fadak tercantum dengan jelas dalam Shahih Bukhari, sungguh tak disangka kitab tershahih malah didustakan oleh hakekat.com. Kalau para pembaca yang awam tidak percaya maka silakan lihat Shahih Bukhari yang satria kutip dari situs ummulhadits.org
KIsah Fadak Shahih Bukhari
KIsah Fadak Shahih Bukhari
Shahih Bukhari [kitab kebanggaan hakekat.com] adalah sebaik-baik bukti yang menunjukkan kedustaan hakekat.com. Cih kalau kitab panutannya sendiri berani ia dustakan apalagi kitab mahzab Syiah yang sangat ia benci. Maka sungguh patut kita bertanya-tanya Dimana letak kejujuran ilmiah tulisan-tulisan hakekat.com. Beginilah akibatnya jika menurutkan hawa nafsu semata, hatinya yang penuh kebencian terhadap Syiah dan Ahlul Bait telah membutakan akalnya. Apakah kitab Shahih Bukhari itu sukar didapat? sungguh mustahil diterima akal kalau hakekat.com mengaku membaca kitab-kitab Syiah [yang menurut hakekat.com susah dijangkau atau diakses oleh orang awam] padahal untuk kitab Shahih Bukhari yang beredar luas dan sangat mudah dijangkau ternyata hakekat.com tidak mampu untuk sekedar membacanya. Mahzab apa yang dianut oleh pemilik situs hakekat.com?. Kitab apa yang sebenarnya menjadi pegangan hakekat.com, Kalau Shahih Bukhari kitab pegangan kaum Sunni tidak menjadi pegangan hakekat.com lantas mahzab apakah hakekat.com?. Beginilah pembaca akhlak situs pendusta dan nashibi Hakekat.com. Apa faedah dari bukti nyata yang satria paparkan?. Pikirkanlah wahai pembaca yang budiman, jika hakekat.com dengan mudah  dan tidak segan-segan mendustakan Kitab Shahih Bukhari yang menjadi pegangan mahzabnya maka akan sangat mudah sekali bagi hakekat.com untuk berdusta atas nama kitab-kitab Mahzab Syiah [yang tentu sangat dibenci hakekat.com]. Camkanlah dan mari kita sama-sama berdoa semoga penyakit hakekat.com ini tidak menjangkiti kita semua.

Siapa Bersama Nabi Saat Hijrah?

Sebagian salafy nashibi hari ini meyakini kalau dusta dihalalkan jika dilakukan demi menyerang mahzab Ahlul Bait. Tidak lain dan tidak bukan sifat buruk ini didasari kebencian yang mendalam dengan Ahlul Bait dan pengikutnya. Inilah sifat asli hakekat.com nashibi sejati, dengan dalih mencintai Abu bakar ia berdusta atas nama Syiah. Apakah benar hakekat cintanya pada Abu bakar atau tersembunyi kebencian yang terselubung? Simak baik-baik makalah ini.
Cinta memang membuat mata jadi buta, membuat telinga jadi tuli, membuat hati jadi bebal, membuat pikiran berhenti bekerja. Akhirnya cinta menguasai diri dan membuat tak sadar diri, berjalan tanpa arah. Begitulah hakekat.com yang katanya mencintai Abu bakar, tapi cinta itu berubah menjadi pembelaan membabi-buta tersesat tanpa arah. Keinginannya untuk memuja-muja Abu bakar tidak terpuaskan oleh literature kitab pegangannya sehingga perlu baginya untuk mencari-cari di kitab Syiah. Cih betapa dungunya, ketika ia tidak menemukan secuilpun keutamaan Abu bakar dalam literature Syiah maka ia membuat kepalsuan untuk memenuhi nafsunya.
Begitu juga benci, bisa membuat mata jadi buta, membuat telinga jadi tuli, membuat hati jadi bebal, membuat orang tidak lagi mau berpikir dengan akalnya yang sehat. Kadang orang yang ditutupi oleh rasa benci kita katakan sebagai tidak punya akal. Sebenarnya dia punya akal, hanya saja akalnya sedang tidak digunakan. Begitulah hakekat.com kebenciannya yang selangit kepada Ahlul bait membuatnya tidak rela kalau nama Ahlul bait membumbung tinggi. Nafsu telah menguasai jalan pikirannya untuk mengangkat tinggi orang pujaannya demi menutupi ketinggian Ahlul bait.
Huh betapa dungunya orang yang merasa sok tahu akan rumah orang tetapi tidak tahu hakikat rumah sendiri. Hakekat.com seharusnya belajar banyak membaca kitab literaturnya sendiri sebelum membaca literature orang lain, bodohnya ternyata hakekat.com tidak tahu kalau kalau kitab literaturnya sendiri telah merendahkan Abu bakar tokoh pujaan hatinya.
Hakekat.com nashibi salafi sangat membenci Imam Ali [alaihissalam], karena ia tidak rela dengan keutamaan Imam Ali yang lebih tinggi jauh di atas pujaan hatinya abu bakar. Kebencian ini merupakan implikasi dari mahzab nasibi yang dianutnya. Abubakar sebagai khalifah setelah Nabi wafat, maka menurutnya wajar jika abu bakar harus paling utama, karena dia lah yang menduduki kursi menggantikan Nabi sebagai orang paling mulia. Tetapi betapa terkejutnya ia ketika mengetahui justru Imam Ali merupakan Ahlul bait dengan keutamaan yang tinggi melebihi Abu bakar dan betapa shock dirinya ketika mengetahui abu bakar hanyalah seorang perampas kekhalifahan. Nafsu telah menguasai akalnya, ia menjadi kalap dan benci dengan mereka yang tidak mengakui tokoh pujaannya hingga akhirnya kebencian itu membuat matanya buta, membuat telinganya tidak lagi mampu mendengar nasehat, membuat otaknya tidak lagi digunakan untuk berpikir, atau barangkali seperti dalam istilah komputer, hang.
Pikiran error membuat mata jadi error juga atau sebenarnya hatinya ikut-ikutan error. Ketika hakekat.com menafsirkan surat At Taubah
Jikalau tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seseorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya:”Janganlah berduka cita, sesungguhya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 9:40).
Hakekat.com yang sedang error membual
Tak disangka dan tak dirkira, ternyata peristiwa hijrah Nabi beserta Abubakar tercantum dalam kitab-kitab syi’ah sendiri. Tetapi karena hati mereka dibakar emosi dan rasa benci, yang jika tidak dilampiaskan bisa berakibat buruk –kira-kira begitu kata ahli jiwa-, akhirnya mereka sibuk melampiaskan kebencian mereka pada Abubakar, hingga tidak sempat membaca kitab-kitab mereka sendiri.
Cih maling teriak maling, padahal diri sendiri yang penuh kebencian malah balik menuduh orang lain. huh dengan sombong ia mengatakan kalau syiah tidak membaca kitab mereka sendiri. Alangkah naïf, kalau bukan kami yang membaca lalu siapa? Nashibi seperti hakekat.com, sungguh mustahil karena nashibi tidak akan tahan membaca nama-nama Ahlul bait yang mulia. Hakekat.com tidak lebih seorang pendusta sok. Ia mengaku membaca kitab Syiah tetapi faktanya banyak sekali bukti kalau ia salah membaca, tidak membaca dengan benar atau benar-benar tidak membaca.
Mari pembaca yang terhormat kita lihat kepalsuan hakekat.com mengutip Tafsir Imam Hasan Al Askari hal 467-468 , yang menceritakan peristiwa hijrah, setelah Nabi meminta Ali untuk tidur di tempat tidurnya, Nabi berkata pada Abubakar:
ثم قال رسول الله صلى الله عليه وآله لابى بكر : أرضيت أن تكون معي يا أبابكر تطلب كما اطلب ، وتعرف بأنك أنت الذي تحملني على ماأدعيه ، فتحمل عني أنواع العذاب ؟ قال أبوبكر : يا رسول الله أما أنا لو عشت عمر الدنيا أعذب في جميعها أشد عذاب لا ينزل علي موت مريح ، ولا فرج متيح وكان في ذلك محبتك لكان ذلك أحب إلي من أن أتنعم فيها وأنا مالك لجميع ممالك ملوكها في مخالفتك ، وهل أنا ومالي وولدي إلا فداؤك ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وآله : لا جرم إن اطلع الله على قلبك ووجد ما فيه موافقا لما جرى على لسانك ، جعلك مني بمنزلة السمع والبصر والرأس من الجسد ، وبمنزلة الروح من البدن ، كعلي الذي هو مني كذلك ، وعلي فوق ذلك لزيادة فضائله وشريف خصاله . يا أبابكر إن من عاهد الله ثم لم ينكث ولم يغير ، ولم يبدل ولم يحسد من قد أبانه الله بالتفضيل فهو معنا في الرفيق الاعلى ، وإذا أنت مضيت على طريقة يحبها منك ربك ، ولم تتبعها بما يسخطه ، ووافيته بها إذا بعثك بين يديه ، كنت لولاية الله مستحقا ، ولمرافقتنا في تلك الجنان مستوجبا .
Kemudian Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] berkata kepada Abubakar : “Apakah engkau rela menyeru sebagaimana aku menyeru, berdakwah sebagaimana aku, dan menahan siksaan sebagaimana aku ?”. Abubakar berkata : “Wahai Rasulullah, jika aku hidup seumur dunia dan tersiksa dengan pedih, dimana tidak ada kematian  dan tidak pula ada kesenangan, jika semua itu karena mencintai anda, maka hal itu lebih aku sukai daripada hidup dalam kenikmatan dan menjadi penguasa bagi semua kerajaan dan menentangmu. diriku, hartaku, dan anak-anakku menjadi tebusan bagi anda”. Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] berkata kepadanya : “Tidak diragukan bahwa Allah mengetahui hatimu yang sesuai dengan lisanmu. Kedudukanmu di sisiku bagaikan kedudukan telinga, mata dan kepala bagi tubuh, dan bagaikan kedudukan nyawa atas badan. Demikian pula Ali memiliki kedudukan seperti itu di sisiku, bahkan lebih dari itu dengan kelebihan keutamaannya dan kemuliaannya. Wahai Abubakar, jika seseorang telah berjanji kepada Allah, kemudian ia tidak melanggar dan merusaknya, tidak mengubah dan tidak hasad kepada orang yang telah Allah tetapkan keutamaannya, maka akan bersama kami dalam kedudukan tertinggi. Jika kau melewati jalan yang Allah inginkan, dan tidak mengikuti apa-apa yang Allah benci, dan setia atas keputusan-Nya, maka kau berhak berada dalam wilayah Allah dan berada di Syurga bersama kami”
Perhatikanlah wahai pembaca yang budiman, hakekat.com tidak menulis secara sempurna apa tepatnya yang dikatakan Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] kepada Abu bakar. Hakekat.com pendusta ini hanya mengutip apa yang sesuai nafsunya semata tetapi meninggalkan apa yang tidak disukainya. Tulisan yang satria cetak tebal tidak secuilpun ditulis hakekat.com si pendusta.
Jelas sudah, Nabi meminta Ali untuk tidur di kamarnya, dan mengajak Abubakar untuk berangkat hijrah. Saat mengajak, Nabi tak lupa menjelaskan konsekuensi menemani Nabi berhijrah, yaitu ikut dicari-cari oleh musuh, terancam disiksa oleh musuh dengan siksa yang pedih. Ternyata Abubakar mengaku kalau ia siap, siap mengorbankan diri, keluarga dan hartanya demi kecintaan pada Rasulullah. Abubakar siap disiksa seumur hidup demi kecintaan pada Rasul. Siap hidup menderita demi cintanya. Begitulah pengakuannya tetapi pengakuan hanyalah pengakuan.
Kemudian Rasulullah menerima wahyu dari Allah, bahwa Allah menetapkan kemuliaan yang sangat tinggi kepada Imam Ali [alaihis salam]. Di sini Allah juga mengingatkan Rasul SAW untuk menyampaikan kepada Abubakar agar ia tidak mengingkari atau melanggar janjinya karena hasad atau tidak senang kepada orang yang Allah tetapkan keutamaannya. Disinilah Abu bakar dikatakan jika ia setia terhadap semua keputusan Allah SWT nantinya maka ia akan bersama Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] di surga.
Sungguh manusia memang mudah tergoda, begitulah pada akhirnya Abu bakar mengingkari janjinya, ia tidak setia akan keputusan Allah SWT yang menetapkan Imam Ali [alaihis salam] sebagai pengganti Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam]. Perhatikanlah wahai pembaca, tepat setelah Rasulullah mengatakan tentang Abu bakar, Beliau memuji Imam Ali dimana Imam Ali memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari Abu bakar karena keutamaannya dan Imam Ali lah yang diisyaratkan oleh Rasulullah sebagai orang yang ditetapkan oleh Allah SWT keutamaannya, Disini Rasulullah mengingatkan Abu bakar agar tidak hasad kepada orang yang telah Allah tetapkan keutamaannya [yaitu Imam Ali].
Hakekat.com mengatakan
Di sini kita merasa heran, orang yang dibenci oleh syi’ah hari ini ternyata dicintai oleh Allah. Lalu siapa yang benar? Syi’ah atau Allah?
Disini kita merasa heran, jika memang hakekat.com mengaku membaca kitab Tafsir Imam Hasan Al Askari [alaihissalam] lantas bagaimana bisa ia tidak membaca kata-kata Rasulullah [Shalallahu alaihi wa aalihi wassalam] selanjutnya yang menunjukkan bahwa pada saat itu orang yang Allah tetapkan keutamaannya adalah Imam Ali [alaihissalam]  sedangkan untuk Abu bakar Allah memberikan peringatan agar tidak mengingkari janji setia kepada Rasulullah dan tidak hasad terhadap orang yang Allah tetapkan keutamaannya.
Ini menimbulkan satu pertanyaan besar, mungkinkah hakekat.com membaca langsung kitab-kitab Syiah? Jika memang begitu maka sudah pasti ia mengetahui apa yang satria tulis, Disini hanya ada dua kemungkinan, ia hanya mengutip kitab guru nashibinya yang suka merendahkan syiah dan membuat kebohongan atas nama syiah atau ia membaca tetapi pura-pura tidak tahu dan sengaja menyelewengkan fakta agar para pembacanya yang awam terkelabui. Memang teman-teman nashibinya sudah pasti kegirangan melihat tulisan yang merendahkan pengikut ahlul bait, mereka tidak peduli tulisan itu benar atau tidak. Huh memang makhluk nashibi seperti mereka ini benar-benar tidak pantas mengaku sebagai pengikut Rasulullah[Shalallahu alaihi  wa aalihi wassalam]
Mengapa hakekat.com tidak tahu bahwa orang yang ditetapkan keutamaannya saat itu adalah Imam Ali [alaihissalam]. Mengapa ia tidak mengutip pujian untuk Imam Ali [alaihissalam] yang tepat berada pada lanjutan kutipannya? Oh ya bukankah kita sudah tahu kalau hakekat.com ini membenci Imam Ali [alaihissalam] jadi wajar saja kalau ia tidak mau mengutip pujian untuk Imam Ali [alaihissalam]. Alangkah celakanya orang yang membenci apa yang telah Allah tetapkan.
Marilah kita lapangkan dada kita untuk mencintai orang yang dicintai Allah SWT dan telah Allah tetapkan keutamaannya. Kita pasti tak rela jika orang yang kita cintai direndahkan. Misalnya jika ada orang yang merendahkan ibu kita, sudah pasti kita marah dan murka. Kita marah ketika ibu yang melahirkan kita dan banyak berjasa pada kita, begitu saja dimaki-maki. Bagaimana dengan Allah? Apakah kita berani merendahkan orang yang telah ditetapkan oleh Allah SWT keutamaanya?. Apakah kita berani bersikap hasad kepada orang yang Allah SWT tetapkan keutamaannya?.
Hakekat.com memang mengikuti pendahulunya Abu bakar yang hasad terhadap kemuliaan Imam Ali [alaihissalam]. Hakekat.com lebih memilih setia kepada Abu bakar dibanding kepada Allah SWT. Naudzubillah.
READMORE
 

Mengapa Syiah solat dengan tangan lurus?


Gambar hiasan

 Mengapa Syiah solat dengan tangan lurus?

Sebelum menjawab persoalan ini, kita perlu mengetahui
terlebih dahulu apakan makna Takattuf atau tangan tertutup ketika bersolat dari
perspektif bahasa dan meneliti apakah pandangan
para Imam dan fuqaha Syiah.





Takfir dari segi bahasa.





Ibnu Atsir berkata tentang perkara ini:





التكفير ، وهو وضع اليدين على الصدر ، والانحناء ، خضوعا
واستكانة .


النهاية في غريب الحديث، ج 4، ص 100.


Takfir ialah
meletakkan dua tangan di atas dada, lentur kerana kepatuhan dan ketenangan. -
Al-Nihayah Fi Gharib Al-Hadits, jilid 4 halaman 100.








Jawhari pula berkata:





والتكفير أن يخضع  الإنسان لغيره كما يكفر العلج
للدهاقين، يضع يده على صدره ويتطامن له.


الصحاح، ج 2، ص 808.





Takfir ialah insan
yang merendahkan diri kepada yang lainnya, seperti haiwan ternakan yang patuh
kepada tuannya, iaitu manusia yang meletakkan tanggan di atas dadanya untuk dan
khusyuk kepadanya. - Al-Shihah, jilid 2 halaman 808.





Zubaidi berkata:





 والتكفير
: أن يخضع الإنسان لغيره وينحني ويطأطئ [أحدهم‏] رأسه قريبا من الركوع ، كما يفعل
من يريد تعظيم صاحبه ، ومنه حديث أبي معشر : «أنه كان يكره التكفير في الصلاة».
وهو الانحناء الكثير في حالة القيام قبل الركوع . وتكفير أهل الكتاب أن يطأطئ رأسه
لصاحبه كالتسليم عندنا . وقد كفر له . وقيل : هو أن يضع يده أو يديه على صدره.


تاج العروس، ج 7، ص 455.


Al-Takfir ialah
manusia merendah diri terhadap yang lain dan melenturkan pinggang, sesorang
yang menundukkan kepalanya untuk tuannya sehingga hampir kepada rukuk, sebagaimana
seseorang yang ingin mempermuliakan seseorang di depannya. Hadis daripada Abi
Ma’syar berkata bahawa: Sesungguhnya ia menganggap makruh Al-Takfir di dalam
solat. Dan juga ia banyak membongkok ketika dalam keadaan sedang bangun sebelum
rukuk. Manakala Al-Takfir di sisi Ahli Kitab adalah seseorang menundukkan
kepadanya untuk tuannya sebagaimana salam hormat di sisi kita. Ada juga
perletakan tangan di dada dikatakan sebagai: meletakkan tangan atau kedua-dua
tangan di atas dadanya. - Taj Al-‘Arus, jilid 7 halaman 455.





Pertama:





Syiah melaksanakan
semua amalannya menurut sunnah Nabi (s.a.w) kerana mereka beri‘tiqad bahawa
Allah (s.w.t) meletakkan Nabi Muhammad sebagai contoh teladan.





لَقَدْ
كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ.
 احزاب 21


Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah
itu contoh ikutan yang baik - Surah Al-Ahzab, ayat 21.





Begitu juga terdapat dalil-dalil kukuh bahawa sunnah Nabi
mewajibkan kita mengikuti para Imam Ahlul Bait dan mengambil sunnah Rasulullah
(s.a.w) daripada baginda. Oleh itu perkara ini terdiri daripada dua asas iaitu:





1. Ketaatan kepada Ahlul Bait.





Syiah Imamiyah menganggap jalan yang sahih hanyalah
mengikuti para Imam Ahlul Bait (a.s) sahaja dengan dalil-dalil berikut:





a) Hadis Al-Tsaqalain:





Salah satu dalil Hadis Tsaqalain yang disepakati dan
dipegang oleh kedua-dua firqah, dan telah dinukilkan oleh majoriti ahli hadis
dan ulama besar Syiah dan Ahlusunnah ialah:





Daripada Zuhair bin
Harb dan Syuja’ bin Makhlad, daripada Ibnu ‘Ulayyah, Zuhair, Isma‘il bin
Ibrahim, Abu Hayyan, Yazid bin Hayyan berkata:





Aku pergi bersama-sama
Hushain bin 
Sabrah dan ʻUmar
bin Muslim kepada Zaid bin Arqam dan tatkala kami duduk di sampingnya, Hushain
berkata kepadanya: Wahai Zaid, sesungguhnya engkau telah mencapai banyak
kebaikan, engkau telah melihat Rasulullah (s.a.w), engkau telah mendengar
hadisnya dan berperang bersama baginda dalam peperangan-peperangan,
bersembahyang bersama di belakang baginda. Sesungguhnya engkau telah
memperolehi banyak kebaikan wahai Zaid. Wahai Zaid, ceritakanlah apa yang kamu
dengar daripada Rasulullah (s.a.w). Beliau berkata: Sesungguhnya aku telah tua,
dan telah lama usiaku dan aku telah lupa beberapa perkara yang aku ingat
berkaitan dengan penerimaan dan hafalan hadis Rasulullah (s.a.w). Maka
terimalah apa yang aku ceritakan kepada kalian dan janganlah paksa apa yang aku
tidak ceritakan.



حَدَّثَنِى زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَشُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ جَمِيعًا عَنِ ابْنِ عُلَيَّةَ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِى أَبُو حَيَّانَ حَدَّثَنِى يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ انْطَلَقْتُ أَنَا وَحُصَيْنُ بْنُ سَبْرَةَ وَعُمَرُ بْنُ مُسْلِمٍ إِلَى زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ فَلَمَّا جَلَسْنَا إِلَيْهِ قَالَ لَهُ حُصَيْنٌ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَسَمِعْتَ حَدِيثَهُ وَغَزَوْتَ مَعَهُ وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا كَثِيرًا حَدِّثْنَا يَا زَيْدُ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- - قَالَ - يَا ابْنَ أَخِى وَاللَّهِ لَقَدْ كَبِرَتْ سِنِّى وَقَدُمَ عَهْدِى وَنَسِيتُ بَعْضَ الَّذِى كُنْتُ أَعِى مِنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَمَا حَدَّثْتُكُمْ فَاقْبَلُوا وَمَا لاَ فَلاَ تُكَلِّفُونِيهِ.
ثُمَّ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ « أَمَّا بَعْدُ أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ أَنْ يَأْتِىَ رَسُولُ رَبِّى فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ ». فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ ثُمَّ قَالَ « وَأَهْلُ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى أُذَكِّرُكُمُ اللَّهَ فِى أَهْلِ بَيْتِى
صحيح مسلم: ج4 ص1873، باب فضائل علي بن أبي طالب.



Kemudian beliau
berkata: Pada suatu hari Rasulullah (s.a.w) bangkit berkhutbah di tengah-tengah
kami, di suatu tempat air yang dinamakan Khum, terletak di antara Makkah dan
Madinah. Setelah memuji Allah dan mengajak dan mengingatkan, kemudian baginda
bersabda:





“Adapun sesungguhnya,
hanyasanya aku adalah manusia yang hampir datang utusan tuhanku maka akan aku
jawab, dan aku tingalkan kepada kalian dua perkara yang berharga: Yang satunya
kitab Allah di dalamnya hidayah dan cahaya, maka berpegang teguhlah dengan
kitab Allah dan patuhilah ia.”





Baginda menggesa
tentang kitab Allah dan memberi semangat tentangnya. Kemudian baginda bersabda:
dan Ahlul Baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku, aku
ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahlul Baitku, aku ingatkan kalian kepada
Allah tentang Ahlul Baitku. - Sahih Muslim, jilid 4 halaman 1873, Bab kelebihan
‘Ali bin Abi Talib.





Al-Tarmizi juga
menukilkan dengan sanad daripada Abi Sa
ʻid Al-Khudri dan Zaid bin Arqam yang mengatakan:


«قال
رسول الله [صلى الله عليه وآله]: إني تارك فيكم ما إن تمسكتم بهما لن تضلوا بعدي،
أحدهما أعظم من الآخر كتاب الله حبل ممدود من السماء إلى الأرض، وعترتي أهل بيتي
ولن يفترقا حتى يردا عليّ الحوض، فانظروا كيف تخلفوني فيهما»


سنن الترمذي: ج5 ص329. وأخرج قريباً منه
أحمد في مسنده ج3 ص14وص17 وص26 وص59، ج5 ص182 ، والنسائي في السنن الكبرى ح5 ص51
ح8175، والحاكم في المستدرك، وقال عنه: «هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه
بطوله» المستدرك: ج3 ص109ـ 110. وأخرجه غير هؤلاء من الحفاظ وأئمة الحديث وقد صححه
الألباني في صحيح الجامع الصغير.الألباني، صحيح الجامع الصغير: ج1 ص482 ح 2457.


Rasulullah (s.a.w) bersabda: Sesungguhnya Aku tinggalkan
kepada kalian, yang mana jika kalian berpegang dengannya, maka kalian tidak
akan sesat selama-lamanya setelah kewafatanku, satunya lebih agung daripada
yang lain iaitu kitab Allah, tali yang terentang dari langit ke bumi, dan ʻItrah Ahlul Baitku, dan
kedua-duanya tidak akan terpisah sehingga menemuiku di telaga Al-Haudh. Maka
perhatikanlah bagaimana kalian sikap kalian terhadap kedua-duanya itu. - Sunan
Al-Tarmizi, jilid 5 halaman 329; Musnad Ahmad ibnu Hanbal, jilid 3 halaman 14,
17, 26, 59 dan jilid 5 halaman 182; Nasa’i di dalam Al-Sunan Al-Kubra, jilid 5
halaman 51, hadis 8175; Al-Hakim Al-Nisyaburi di dalam Al-Mustadrak dengan
mengatakan: Hadis ini sahih menurut syarat Imam Bukhari dan Muslim dan mereka
berdua tidak pernah mengeluarkannya; Al-Mustadrak, jilid 3 halaman 109-110;
Selain mereka ini, hadis tersebut telah dikeluarkan juga oleh Huffaz dan para
imam hadis, dan telah disahihkan oleh Al-Bani di dalam Sahih Al-Jamiʻ Al-Shaghir, jilid 1 halaman
482, hadis nombor 2457.





Namun siapakah Ahlul Bait yang diwajibkan ketaatan pada
mereka dalam hadis ini? Sunan Al-Tarmizi telah memperincikan nama-nama Ahlul
Bait sebagai berikut:





«لما نزلت هذه الآية على النبي صلى الله عليه وآله:
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ
وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً في بيت أم سلمة، فدعا فاطمة وحسناً وحسيناً، فجللهم
بكساء وعلي خلف ظهره، فجلله بكساء، ثم قال: اللهم، هؤلاء أهل بيتي، فاذهب عنهم
الرجس وطهرهم تطهيراً، قالت أم سلمة: وأنا معهم يا رسول الله؟ قال: أنت على مكانك
وأنت إلى خير»


سنن الترمذي: ج5 ص328. قال عنه الألباني:
«صحيح» الألباني، صحيح سنن الترمذي: ج3 ص306 ح 3205.، وأخرجه غيره من المحدثين والعلماء،
كالطبري في جامع البيان الطبري، جامع البيان: ج22 ص12 ح21736. والطحاوي في مشكل
الآثار مشكل الآثار: ج1 ص335.


Tatkala ayat ini turut kepada Nabi (s.a.w): (Sesungguhnya
Allah hanyalah hendak menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu -
wahai "AhlulBait" dan hendak membersihkan kamu sebersih-bersihnya.) di
rumah Ummu Salamah, maka baginda memanggil Fatimah, Hasan dan Husain. Lantas
baginda menutup mereka dengan kain dan baginda (s.a.w) bersabda: Ya Allah,
mereka adalah Ahlul Baitku, hilangkanlah kenistaan dan sucikanlah mereka
sebersih-bersihnya. Maka Ummu Salamah berkata: Apakah aku bersama mereka ya
Rasulullah? Baginda bersabda: Engkau tetap pada tempatmu sendiri dan engkau
dalam kebaikan.





Namun hendaklah kita ketahui apakah yang dimaksudkan oleh
riwayat yang menyatakan ‘berpegang dengan mereka’, ulama Ahlusunnah Mulla ‘Ali
Qari berkata:





«والمراد بالأخذ بهم، التمسك بمحبتهم ومحافظة حرمتهم والعمل
بروايتهم والاعتماد على مقالتهم...».


مرقاة المفاتيح: ج9 ص3974، باب مناقب أهل
بيت النبي [صلى الله عليه وآله].


وذكر المناوي في فيض القدير ما يشبه هذا
المضمون.المناوي، فيض القدير شرح الجامع الصغير: ج3 ص20.





Maksud berpegang teguh
dengan mereka ialah berpegang dengan mencintai mereka, menjaga penghormatan
mereka, beramal dengan riwayat mereka dan meyakini perkataan-perkataan mereka…
- Mirqat Al-Mafatih, jilid 9 halaman 3974, bab Manaqib Ahlul Bait Al-Nabi
(s.a.w). Al-Munawi menyebut intisari seperti ini di dalam Faidh Al-Qadir, -
Al-Munawi, Faidh Al-Qadir, Syarah Al-Jami
ʻ Al-Shaghir, jilid 3 halaman 20.





B. Hadis Safinah





Salah satu daripada
hadis-hadis yang kukuh dan meyakinkan atas kewajipan mengikuti doktrin Ahlul
Bait ialah hadis Safinah di mana Ahmad bin Hanbal, beberapa orang ahli hadis
dan para ulama Ahlusunnah nukilkan dan mensahihkan sanadnya ialah:





«سمعت
أبا ذر يقول وهو آخذ بباب الكعبة: من عرفني فأنا من قد عرفني، ومن أنكرني فأنا أبو
ذر سمعت النبي صلى الله عليه وآله يقول: ثم ألا إنّ مثل أهل بيتي مثل سفينة نوح من
ركبها نجا ومن تخلف عنها هلك».


أحمد بن حنبل، فضائل الصحابة: ج2 ص785؛
الحاكم النيسابوري المستدرك: ج2 ص343. الطبراني، المعجم الكبير: ج3 ص44 – 45؛
الطبراني، المعجم الأوسط: ج4 ص10 ج5 ص306 ـ 355، ج6 ص85؛ الطبراني، المعجم الصغير:
ج1 ص139ـ 140 ج2 ص22.الحاكم النيسابوري، المستدرك: ج2 ص343. تاريخ بغداد: ج12 ص90.
حلية الأولياء: ج4 ص306.





Aku mendengart Abu Zar
berkata ketika beliau sedang memegang pintu Ka
ʻbah: Barangsiapa yang mengenaliku, maka ia telah mengenaliku, barangsiapa
yang tidak mengenaliku, maka akulah Abu Zar. Aku telah mendengar bahawa
Rasulullah (s.a.w) bersabda: Ketahuilah sesungguhnya perumpamaan Ahlul Baitku
seperti bahtera Nabi Nuh (a.s), barangsiapa yang menaikinya ia akan selamat,
dan barangsiapa yang berpaling maka ia akan binasa. - Ahmad bin Hanbal,
Fadha’il Al-Shahabah, jilid 3 halaman 785; Al-Hakim Al-Nisyaburi, Al-Mustadrak,
jilid 5 halaman 343; Al-Thabrani, Mu’jam Al-Kabir, jilid 3 halaman 44-45;
Al-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsat, jilid 4 halaman 10, jilid 5 halaman 306-355,
jilid 6 halaman 85; Al-Thabrani, Al-Mu
ʻjam Al-Shaghir, jilid 1 halaman 139-140, jilid 2 halaman 22. Tarikh Baghdad,
jilid 12 halaman 90, Hilyat Al-Awliya, jilid 4 halaman 306.





Al-Munawi membuat
penafsiran Wajhu Tashbih sebagai berikut:





قال المناوي: «ووجه تشبيههم بالسفينة أنّ من أحبهم وعظّمهم
شكراً لنعمة جدهم وأخذ بهدي علمائهم نجا من ظلمة المخالفات، ومن تخلف عن ذلك غرق
في بحر كفر النعم وهلك في معادن الطغيان».


المناوي، فيض القدير: ج5 ص660.





Munawi berkata: Wajhu Tashbih dengan bahtera ialah:
Barangsiapa yang mencintai mereka dan memberi penghormatan kepada mereka kerana
berterima kasih atas nikmat datuknya (Rasulullah), yang telah memberi membimbing
orang-orang alim, maka mereka ini selamat daripada kegelapan para penentang.
Barangsiapa berpaling daripada itu, maka ia akan tenggelam di dalam lautan
kekufuran nikmat dan binasa di dalam lombong thaghut. - Al-Munawi, Faidh
Al-Qadir, jilid 5 halaman 660.





Dalil-dalil kukuh yang lain seperti hadis Nujum juga
menunjukkan kewajipan menaati Ahlul Bait.





2. Larangan beramal dengan hadis-hadis dari jalan
Ahlusunnah.





a) Larangan menerangkan hadis dan pengumpulannya.








Salah satu daripada
masalah yang timbul dalam ilmu hadis ialah tindakan melarang penerangan dan
pengumpulan hadis sebaik sahaja kewafatan Rasulullah (s.a.w). Masalah ini berlanjutan sehingga banyak
hadis-hadis telah luput atau sunnah Nabi mengalami perubahan. Antara catatan
larangan tersebut ialah:





Hafiz Al-Zahabi ketika
menerangkan perihal Abu Bakar, beliau mengatakan:





قال: «إن الصديق جمع الناس بعد وفاة نبيهم، فقال: إنكم
تحدثون عن رسول الله صلى الله عليه وآله أحاديث تختلفون فيها، والناس بعدكم أشد
اختلافاً، فلا تحدثوا عن رسول الله شيئاً، فمن سألكم فقولوا: بيننا وبينكم كتاب
الله، فاستحلوا حلاله وحرموا حرامه».


الذهبي، تذكرة الحفاظ: ج1 ص2ـ3.


Setelah kewafatan
Nabi, Abu Bakar mengumpulkan orang ramai dan berkata: Sesungguhnya kalian
menceritakan hadis-hadis yang berselisih daripada Rasulullah (s.a.w), dan
manusia setelah kalian akan lebih banyak berselisih. Maka janganlah
menceritakan apa pun daripada Rasulullah (s.a.w). Barangsiapa yang bertanya
kepada kalian, maka katakanlah: Di antara kami dan kamu semua ada kitab Allah,
maka halalkanlah apa yang Dia halalkan, dan haramkanlah apa yang Dia
haramkannya. - Al-Zahabi, Tazkiratul Huffaz, jilid 1 halaman 2-3.





Di halaman lain beliau
mengatakan:





«جمع
أبي الحديث عن رسول الله وكانت خمسمائة حديث، فبات ليلته يتقلب كثيراً، قالت:
فغمني، فقلت: أتتقلب لشكوى أو لشيء بلغك؟ فلما أصبح، قال: أي بنية هلمي الأحاديث
التي عندك، فجئته بها، فدعا بنار فحرقها».


الذهبي، تذكرة الحفاظ: ج1ص5.





Ayahku (Abu Bakar)
mengumpulkan hadis daripada Rasulullah (s.a.w) sebanyak lima ratus hadis dan
beliau pun tidur di waktu malam dan banyak beralih ke sana sini (tidak dapat
tidur). Maka aku pun bertanya: Apakah engkau ada masalah atau telah sampai
berita kepadamu? Tatkala menjelang subuh Abu Bakar berkata: Wahai anakku,
bawakan hadis-hadis yang ada padamu. Maka Akupun membawanya. Maka beliau
meminta api lalu membakarnya. - Al-Zahabi, Tazkiratul Huffaz, jilid 1 halaman
5.





Halangan-halangan
begini terjadi lebih dahsyat di zaman 
ʻUmar sebagaimana yang tercatat di dalam Tabaqat Ibnu Saʻad, iaitu daripada ʻAbdullah bin ʻAla’ yang
menukilkan:





 «سألت
القاسم يملي علي أحاديث، فقال: إن الأحاديث كثرت على عهد عمر بن الخطاب، فأنشد
الناس أن يأتوه بها، فلما أتوه بها أمر بتحريقها ».


محمد بن سعد، الطبقات الكبرى: ج5 ص188،
الناشر: دار صادر ـ بيروت





Aku bertanya kepada
Al-Qasim tentang hadis-hadis, maka beliau menjawab: Terdapat banyak hadis-hadis
di zaman Umar. Beliau mengarahkan orang ramai membawa hadis-hadis tersebut.
Apabila hadis dibawakan kepadanya, beliau memerintahkan pembakarannya. -
Muhammad bin Sa
ʻad, Al-Tabaqat
Al-Kubra, jilid 5 halaman 188.





b) Sunnah terdedah
kepada perubahan dan penggantian.





Di dalam riwayat sahih
terdapat bukti yang menunjukkan terjadinya perubahan dan penggantian terhadap
sunnah setelah kewafatan baginda (s.a.w). Sebagaimana yang dilaporkan oleh
Al-Bukhari dengan sanadnya, daripada Abi Hazim yang berkata: Aku mendengar
daripada Sahl bin Sa
ʻd berkata:
Rasulullah (s.a.w) bersabda:





أنا فرطكم على الحوض، فمن ورده شرب منه ومن شرب منه لم يظمأ
بعده أبداً، ليرد علي أقوام أعرفهم ويعرفوني، ثم يحال بيني وبينهم،


Aku yang mendahului kalian di telaga Al-Haudh
(Al-Kawthar), barangsiapa yang memasukinya akan meminum daripadanya.
Barangsiapa yang meminum daripadanya tidak akan dahaga lagi selama-lamanya
setelah itu. Akan datang satu kaum yang aku mengenali mereka dan mereka juga
mengenaliku. Kemudian ada penghalang di antara mereka dan aku.





قال أبو حازم: فسمعني النعمان بن أبي عياش وأنا أحدثهم هذا،
فقال: هكذا سمعت سهلاً؟ فقلت: نعم، قال: وأنا أشهد على أبي سعيد الخدري لسمعته
يزيد فيه، قال: إنهم مني، فيقال: إنك لا تدري ما أحدثوا بعدك، فأقول: سحقاً سحقاً
لمن بدل بعدي».


صحيح البخاري: ج8 ص78، كتاب الفتن، وجاء
مضمون الحديث ذاته في مواضع أخرى من الصحيحين وغيرهما من كتب المسلمين.





Abu Hazim berkata: Pada suatu hari, ketika aku membaca
hadis ini, Nuʻman bin Abi ʻAyyash berkata: Begitukah yang
engkau dengar wahai Sahl? Maka akupun menjawab: Iya. Beliau pun berkata: Aku
saksikan bahawa Abi Saʻid
Al-Khudri meriwayatkan lebih daripada ini, Nabi bersabda: Sesungguhnya mereka
daripada aku. Maka dikatakan kepada baginda: Sesungguhnya engkau tidak tahu apa
yang telah mereka lakukan setelah kewafatanmu. Maka aku pun berkata: Jauhkan!
Jauhkan! mereka yang membuat bidʻah
setelah kewafatanku!

Bersambung....

READMORE